Pesawaran – Perkembangan teknologi digital telah membuka banyak peluang kerja daring (online), memberikan alternatif bagi masyarakat yang ingin tetap produktif tanpa harus meninggalkan rumah. Fenomena ini semakin populer, terutama di kalangan ibu rumah tangga yang ingin lebih dekat dengan keluarga namun tetap bisa mandiri secara finansial.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Rina Putri, seorang ibu dua anak yang memutuskan meninggalkan pekerjaannya di kantor dan beralih ke dunia kerja daring.
“Saya sangat menginginkan pekerjaan yang bisa membuat saya lebih dekat dengan keluarga. Dengan bekerja dari rumah, saya tidak hanya bisa mengurus anak, tapi juga tetap menghasilkan,” ujar Rina saat diwawancarai, Kamis (26/6/2025).
Fenomena serupa juga dialami oleh Dewi Anggraini, yang kini aktif menjalankan bisnis online melalui sebuah platform digital.
“Alhamdulillah saya menemukan platform ini sehingga saya bisa mulai membantu suami saya dengan pengeluaran rumah tangga dan masih mempunyai sisa uang untuk saya,” kata Dewi.
Pekerjaan daring yang digeluti para ibu ini beragam, mulai dari reseller produk, penulis lepas, desain grafis, hingga jasa asisten virtual. Fleksibilitas waktu dan tanpa perlu transportasi menjadi alasan utama semakin banyak perempuan mempertimbangkan kerja dari rumah.
Pakar ekonomi keluarga dari Universitas Lampung, Dr. Lestari Widya, menyebutkan bahwa tren kerja daring merupakan bentuk adaptasi positif masyarakat terhadap perubahan ekonomi dan teknologi.
“Ini bukan hanya soal penghasilan, tapi juga soal peran keluarga. Ketika seorang ibu bisa berkarya dari rumah, itu berdampak besar terhadap keseimbangan kehidupan keluarga dan ekonomi rumah tangga,” ungkapnya.
Meski begitu, tantangan kerja daring juga tak sedikit, mulai dari keterbatasan jaringan internet di daerah tertentu, hingga manajemen waktu yang ketat antara pekerjaan dan urusan domestik. Namun, banyak pelaku kerja daring menyebut manfaatnya jauh lebih besar dibanding risikonya.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang peluang kerja daring, tak menutup kemungkinan bahwa gaya kerja masa depan akan lebih fleksibel, tidak selalu bergantung pada ruang kantor fisik. Bagi banyak keluarga, ini adalah peluang emas untuk hidup lebih harmonis dan sejahtera.

