Ketika Arab Saudi mengumumkan pembangunan proyek Land Bridge sepanjang 1.500 kilometer dengan nilai sekitar Rp112 triliun, dunia menoleh bukan karena panjang relnya, tapi karena efisiensinya. Sementara itu, Indonesia bangga dengan Whoosh, kereta cepat 142 kilometer yang menelan biaya hampir Rp113 triliun.
Dua proyek, dua benua, satu angka—tapi hasilnya sepuluh kali lipat berbeda.
Arab Saudi: Baja Menyatukan Dua Lautan
Saudi Land Bridge akan menghubungkan Laut Merah dan Teluk Arab, menjadikan kerajaan gurun itu poros logistik global. Panjang jalurnya 1.500 km dengan nilai investasi sekitar US$7 miliar (Rp112 triliun).
Itu berarti, biaya per kilometer hanya sekitar Rp75 miliar.
Bayangkan: proyek menembus padang pasir tandus, menghadapi badai debu, dan suhu ekstrem, tapi tetap efisien. Infrastruktur didesain untuk barang dan penumpang sekaligus, memperkuat posisi ekonomi Saudi di era pasca-minyak.
Jepang: Ketepatan yang Mahal tapi Rasional
Jepang membangun Tōkaidō Shinkansen (Tokyo–Osaka) sepanjang 515 km pada tahun 1960-an dengan biaya setara ¥380 miliar (sekitar Rp1,8 triliun saat ini). Bila dihitung ulang, biaya konstruksinya hanya sekitar US$7 juta per km, jauh di bawah rata-rata proyek baru di Asia.
Bahkan proyek paling ambisius mereka, Chūō Shinkansen Maglev — jalur magnetik Tokyo–Nagoya sepanjang 285 km — menghabiskan sekitar ¥4.000 miliar (sekitar Rp400 triliun), atau Rp1,4 triliun per km. Tapi konteksnya berbeda: 86% lintasannya berada di bawah tanah, menembus pegunungan dan zona gempa aktif.
Artinya, biaya tinggi di Jepang muncul karena kompleksitas teknis, bukan karena kompleksitas administrasi.
Indonesia: Whoosh — Cepat di Rel, Sprint di Anggaran
Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) memiliki panjang 142 km dengan biaya Rp113 triliun.
Itu berarti Rp800 miliar per km, lebih mahal dari proyek Saudi yang sepuluh kali lebih panjang, dan hampir menyamai proyek Maglev Jepang yang sepenuhnya bawah tanah.
Ironisnya, lintasan Whoosh tak menembus gunung Fuji atau gurun pasir. Yang ditembus justru lapisan birokrasi dan polemik antar-kementerian: siapa bayar apa, berapa bunga pinjaman, dan bagaimana menutup selisih pembengkakan biaya.
Di Arab, rel baja menyatukan dua lautan.
Di Jepang, rel presisi menyatukan disiplin dan waktu.
Di Indonesia, rel logika menyatukan kementerian dan drama.
Ketika Angka Bicara
Negara Panjang Jalur Total Biaya Biaya per km Catatan Utama:
- Arab Saudi 1.500 km Rp112 triliun Rp75 miliar/km Jalur kargo & penumpang, melintasi gurun.
- Jepang (Shinkansen) 515 km Rp1,8 triliun (nilai kini) Rp35 miliar/km Teknologi tinggi, efisiensi presisi.
- Jepang (Maglev) 285 km Rp400 triliun Rp1,4 triliun/km 86% jalur bawah tanah.
- Indonesia (Whoosh) 142 km Rp113 triliun Rp800 miliar/km Jalur terbuka, lintas datar.
Analisis Singkat
Biaya tinggi bukan dosa — kalau sepadan dengan tantangan teknis dan manfaat publik.
Namun ketika jalur datar di Pulau Jawa memakan biaya mendekati proyek bawah tanah Jepang, kita patut bertanya: di mana efisiensi, di mana akuntabilitas?
Arab Saudi membangun infrastruktur dengan orientasi ekonomi masa depan. Jepang membangun dengan orientasi presisi. Indonesia tampak membangun dengan orientasi prestise politik.
Penutup: Rel Baja dan Rel Logika
Whoosh tetap prestasi teknologi. Tapi kebanggaan tak boleh menutup nalar.
Bangsa besar bukan hanya karena bisa membangun yang cepat, tapi karena bisa membangun dengan wajar, efisien, dan transparan.
Di negara lain, rel baja yang panjang menjadi simbol kemajuan.
Di negeri ini, rel logika yang lentur justru menunjukkan betapa mahalnya harga akal sehat di proyek publik.



