Singojuruh, Banyuwangi – Peluang pasar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner terus menunjukkan tren positif. Permintaan yang stabil dan pertumbuhan konsumen menjadikan usaha makanan dan minuman salah satu sektor yang paling diminati. Melihat potensi tersebut, tim mahasiswa dari berbagai program studi di bawah bimbingan Shinta Setiadevi, S.TP., M.M. melakukan pendampingan kewirausahaan terhadap UMKM ACE (Angkringan Cak Emas) yang berlokasi di Kecamatan Singojuruh.
ACE merupakan salah satu UMKM kuliner yang berkembang pesat berkat lokasi strategisnya. Usaha ini berada di kawasan yang dikelilingi fasilitas umum seperti Ruang Terbuka Hijau (RTH) Singojuruh, Puskesmas Singojuruh, Polsek Singojuruh, Kantor Desa, SD Negeri 1 Singojuruh, serta tidak jauh dari SMA Darussholah, SMPN 1 Singojuruh, PT Superdry, hingga praktik dokter. Keberadaan berbagai fasilitas publik ini menjadikan ACE sebagai destinasi kuliner yang mudah dijangkau dan banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai kalangan.
ACE dikenal dengan berbagai pilihan menu seperti mie pedas, mie jebew, wonton, bakery, smoothies, aneka jus buah, salad buah, alpucok, mangcok, es teler, udang rambutan, pisang aroma, ricebowl, hingga chicken katsu. Meski menawarkan banyak menu, ACE berhasil menjaga konsistensi rasa serta memberikan pelayanan ramah kepada pelanggan. Keunggulan lainnya adalah kebijakan harga yang tidak berubah meskipun pelanggan menambah level kepedasan pada menu mie pedas dan mie jebew. Selain itu, ACE memiliki konsep tempat makan yang variatif, mulai dari bangunan utama, area lesehan, hingga ruang outdoor yang menghadap ke hamparan sawah, memberikan pengalaman kuliner yang nyaman dan menarik.
Pendampingan terhadap ACE dilakukan oleh tim mahasiswa yang terdiri dari Femas Febriano (TI 2019), Bharamiyati Athalas (TI 2019), Dimas (TI 2020), Zidan Bayu (TM 2015), Yoga Tama Desfiansa (TS 2016), dan Abdul Rahman (TI 2019). Program ini dirancang sebagai bagian dari upaya untuk membantu pelaku UMKM mengembangkan usaha melalui penerapan manajemen modern, pemanfaatan teknologi digital, serta peningkatan kualitas pelayanan dan produk.
Proses pendampingan dimulai dengan survei lapangan untuk memetakan kondisi usaha. Tim melakukan observasi terhadap alur produksi, proses penyajian, teknik pengemasan, sistem pelayanan, dan pola pemasaran yang berjalan. Survei ini menjadi dasar penyusunan strategi pendampingan yang tidak hanya fokus pada perbaikan teknis, tetapi juga penguatan identitas dan daya tarik usaha.
Salah satu fokus utama pendampingan adalah pengembangan pemasaran digital. Mengingat dominasi konsumen yang aktif menggunakan media sosial, tim membantu ACE dalam membuat konten promosi, desain poster menu, serta mengoptimalkan penggunaan platform seperti Instagram dan TikTok. Langkah ini bertujuan memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkuat branding ACE sebagai UMKM kuliner modern yang dekat dengan anak muda.
Selain pemasaran digital, tim juga memberikan pelatihan mengenai standardisasi resep dan mutu produk. Pelatihan ini penting untuk menjaga konsistensi rasa yang menjadi keunggulan ACE. Tim juga memberikan saran dalam pengemasan produk, agar menu take-away memiliki tampilan yang lebih menarik dan higienis.
Hasil pendampingan menunjukkan dampak positif bagi perkembangan ACE. Aktivitas media sosial ACE semakin meningkat dengan konten yang lebih rapi dan komunikatif. Jumlah pelanggan juga tercatat mengalami kenaikan, terutama pada jam-jam tertentu yang sebelumnya kurang optimal. Selain itu, perbaikan dalam pelayanan membuat pelanggan merasa lebih puas dan nyaman saat berkunjung.
Dosen pembimbing, Shinta Setiadevi, menilai bahwa pendampingan UMKM seperti ACE sangat penting untuk memperkuat fondasi usaha kecil agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif. “UMKM adalah penggerak ekonomi masyarakat. Dengan pendampingan intensif, kami berharap pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitasnya, tidak hanya dalam hal produk, tetapi juga dalam pengelolaan dan pemasaran,” ujarnya.
Pemilik ACE menyampaikan apresiasi terhadap program pendampingan ini. Menurutnya, kehadiran tim mahasiswa memberikan sudut pandang baru dalam pengelolaan usaha, khususnya dalam memanfaatkan teknologi dan inovasi pemasaran yang selama ini belum maksimal diterapkan.
Pendampingan kewirausahaan ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak jangka pendek, tetapi juga menjadi langkah berkelanjutan bagi pengembangan ACE. Kolaborasi antara dunia akademik dan pelaku UMKM membuktikan bahwa sinergi dapat menghasilkan peningkatan nyata dalam kualitas dan daya saing usaha lokal. Dengan program ini, ACE berpotensi menjadi ikon kuliner Singojuruh yang tidak hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga profesionalisme dalam pengelolaan usahanya.



