SCROLL TO CONTINUE : BACOBAE
Inspirasi

Pelatihan Batik Ciprat Dorong Kemandirian Penerima Manfaat di Sentra Galih Pakuan Bogor

batik ciprat

Bogor – Proses rehabilitasi sosial penerima manfaat residensial di Sentra Galih Pakuan Bogor tidak hanya berfokus pada pemulihan keberfungsian sosial, tetapi juga mendorong kemandirian melalui pelatihan keterampilan, salah satunya pelatihan membuat batik ciprat.

Sentra Galih Pakuan Bogor merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Sosial di bawah Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial yang memberikan layanan rehabilitasi sosial bagi 12 Pemerlu Atensi Sosial (12 PAS).

Pelatihan batik ciprat menjadi salah satu kegiatan vokasional yang rutin diikuti oleh penerima manfaat. Kegiatan ini dilaksanakan setiap Senin hingga Jumat pukul 10.00–15.30 WIB. Sebanyak empat orang penerima manfaat mengikuti pelatihan secara intensif dengan pendampingan langsung dari instruktur batik ciprat.

Salah satu penerima manfaat, Rizki asal Medan, mengaku telah mampu menghasilkan puluhan karya selama mengikuti pelatihan.

“Senang, diajarin dari membatik sampai mewarnai. Selama enam bulan di sini sudah dapat sekitar 50 kain batik ciprat,” ujar Rizki usai mengikuti pelatihan di Sentra Galih Pakuan Bogor, Jawa Barat, Senin (19/1/2026).

Orang yang Menguasai Informasi Lebih Mudah Mengendalikan Keputusan Kelompok

Kain batik ciprat hasil karya penerima manfaat dipasarkan dengan harga Rp150 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung motif dan tingkat kerumitan pola. Saat ini, pemesanan masih dilakukan melalui aplikasi WhatsApp. Ke depan, seiring meningkatnya minat pembeli dari berbagai daerah, penjualan batik ciprat akan dikembangkan melalui platform e-commerce.

Sebagian keuntungan dari penjualan dialokasikan untuk penerima manfaat. Dana tersebut dikumpulkan selama masa rehabilitasi dalam bentuk tabungan dan diberikan setelah proses rehabilitasi selesai sebagai bekal awal menuju kehidupan yang lebih mandiri. Rizki pun berharap keterampilan membatik ini dapat menjadi peluang usaha di masa depan.

“Pengen nanti bisa buka usaha kayak gini,” katanya.

Instruktur batik ciprat, Alfan Kurnia, menyampaikan bahwa antusiasme penerima manfaat dalam mengikuti pelatihan tergolong sangat baik.

“Alhamdulillah, mereka cukup antusias dan disiplin waktu. Mereka juga berani mencoba pola-pola baru serta mengekspresikan diri melalui cipratan dan motif yang dibuat,” ungkap Alfan.

Fungsi Kritik dalam Check and Balance Demokrasi

Ia menambahkan, keterampilan membatik yang diperoleh selama masa rehabilitasi diharapkan dapat menjadi bekal kemandirian bagi para penerima manfaat setelah menyelesaikan program.

“Kemampuan ini menjadi keterampilan baru yang dapat mereka manfaatkan saat terminasi nanti,” pungkasnya. (Kemensos RI)

× Advertisement
× Advertisement