Jakarta – (8 Juli 2025), Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan tiga program strategis nasional untuk mempercepat pengentasan kemiskinan di seluruh pelosok tanah air. Program ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Dalam konferensi pers di Istana Negara, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa ketimpangan sosial dan kemiskinan struktural masih menjadi tantangan utama bangsa. Untuk itu, pemerintah mengambil langkah konkret dengan meluncurkan tiga program unggulan, yaitu:
1. Program Makan Bergizi Gratis
Program ini menyasar anak-anak sekolah dan kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita. Presiden menegaskan pentingnya asupan gizi dalam memutus mata rantai kemiskinan jangka panjang. “Kita tidak bisa bicara masa depan tanpa memastikan generasi penerus tumbuh sehat dan cerdas,” ujar Prabowo.
2. Ekspansi Lapangan Kerja Melalui Proyek Infrastruktur Desa
Pemerintah akan mengalokasikan anggaran khusus untuk pembangunan infrastruktur produktif di pedesaan seperti irigasi, jalan tani, dan pasar rakyat. Proyek-proyek ini akan menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan konektivitas ekonomi di daerah tertinggal.
3. Subsidi Usaha Mikro dan Ultra Mikro
Melalui sinergi dengan perbankan dan koperasi, pemerintah akan memberikan bantuan modal usaha tanpa bunga serta pelatihan kewirausahaan bagi pelaku usaha kecil. Fokus program ini adalah memperkuat kemandirian ekonomi rakyat melalui pendekatan berbasis komunitas.
Presiden Prabowo menekankan bahwa ketiga program ini akan mulai diimplementasikan secara bertahap mulai Agustus 2025, dan ditargetkan memberikan dampak nyata dalam kurun waktu dua tahun pertama masa pemerintahannya.
“Pengentasan kemiskinan bukan sekadar retorika, ini soal keadilan sosial dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Negara harus hadir, dan kita akan pastikan rakyat merasakannya,” tegas Presiden Prabowo.
Langkah ini pun mendapat tanggapan positif dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan pemerhati kebijakan publik. Mereka menilai program-program tersebut sebagai bagian dari arah baru pembangunan nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.



