ACEH TAMIANG — Pascabencana yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, upaya pemulihan tidak hanya difokuskan pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga pemulihan kondisi psikososial anak-anak. Berangkat dari kepedulian tersebut, komunitas Dongeng Ceria memprakarsai Program Zona Anak, sebuah ruang aman yang memungkinkan anak-anak tetap belajar, bermain, dan mendapatkan pendampingan layak di tengah situasi darurat.
Perwakilan Dongeng Ceria, Dena, mengatakan gagasan Zona Anak muncul dari keprihatinan relawan saat pertama kali turun ke lokasi terdampak. Banyak anak terlihat berlarian dan mengejar kendaraan yang melintas di jalan, sementara orang tua mereka sibuk membersihkan rumah dari sisa lumpur dan material banjir.
“Situasi itu cukup berbahaya. Selain berisiko kecelakaan, anak-anak juga terpapar debu dan lingkungan yang tidak sehat,” ujar Dena.
Melihat kondisi tersebut, Dongeng Ceria menghadirkan Zona Anak agar anak-anak dapat berkumpul di satu tempat yang aman, terpantau, dan nyaman. Dengan begitu, orang tua dapat melakukan aktivitas pemulihan tanpa rasa khawatir terhadap keselamatan anak-anak mereka.
Pelaksanaan Zona Anak dilakukan secara kolaboratif bersama sejumlah lembaga dan relawan yang peduli pada isu anak dan kebencanaan di Aceh. Program ini juga mendapat dukungan kuat dari masyarakat setempat.
Di salah satu titik Zona Anak, yakni Mushola Al Hikmah, Kecamatan Karang Baru, tercatat sekitar 100 anak mengikuti kegiatan. Dena mengapresiasi peran ibu-ibu dan warga sekitar yang secara sukarela menyiapkan konsumsi, mulai dari memasak hingga menyediakan makanan.
“Peran masyarakat luar biasa. Anak-anak bisa belajar dan bermain dengan perut kenyang, itu sangat berarti,” katanya.
Setiap lokasi Zona Anak menerapkan kurikulum kegiatan yang sama. Aktivitas dimulai pukul 14.00 WIB setelah anak-anak melaksanakan salat Zuhur dan makan siang. Rangkaian kegiatan meliputi ice breaking, aktivitas motorik seperti menggambar, menulis, membuat cerita, dan melipat origami. Kegiatan dilanjutkan dengan istirahat, salat Asar berjamaah, serta mengaji menggunakan Iqro dan Al-Qur’an.
Selain itu, anak-anak juga diajarkan nilai disiplin dan kemandirian, seperti merapikan sandal, membersihkan area belajar, serta menjalankan jadwal piket.
“Dalam kondisi yang memprihatinkan sekalipun, anak-anak tetap harus mendapatkan haknya untuk belajar dan bermain. Kami ingin menanamkan bahwa mereka tetap bisa tumbuh menjadi anak-anak yang hebat,” tutur Dena.
Program Zona Anak direncanakan berjalan hingga anak-anak dapat kembali bersekolah secara layak. Mengingat sejumlah fasilitas pendidikan belum dapat digunakan, pendampingan akan dilanjutkan sampai situasi dinilai aman. Dongeng Ceria juga menjalankan program pembersihan sekolah bersama tim gabungan setempat untuk mempercepat pemulihan sarana pendidikan.
Kehadiran Zona Anak disambut antusias oleh anak-anak. Ayesha Ningrum (8), siswi kelas II SD, mengaku senang mengikuti kegiatan, terutama menggambar dan bermain bersama teman-teman.
Sementara itu, Aufa Bima (10), siswa kelas V SD, mengatakan dirinya bahagia karena tetap bisa bermain, belajar, sekaligus ikut kegiatan membersihkan masjid. Ia dan teman-temannya mengucapkan terima kasih kepada para relawan yang telah menghadirkan rasa aman dan suasana menyenangkan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Saat ini, Zona Anak telah hadir di lima titik:
Zona Anak 1 — Desa Medang Ara, Dusun Suka Makmur, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang (±50 anak).
Zona Anak 2 — Desa Medang Ara, Dusun Barang Mekku, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang (42 anak).
Zona Anak 3 — Mushola Al Hikmah, Desa Pahlawan, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang (±50–100 anak).
Zona Anak 4 — Mushola Lorong B, Kampung Jawa Langsa, Paya Bujok Tunong, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa (±70–100 anak).
Zona Anak 5 — Dusun 1 dan 2, Desa Pahlawan, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang (±150 anak).
BNPN



