Jakarta — Tren persaingan industri e-commerce yang semakin ketat membuat brand tak lagi bisa mengandalkan iklan semata. Dibutuhkan strategi pemasaran yang terukur dan berbasis data agar penjualan bisa bertumbuh secara konsisten. Hal itu disampaikan oleh konsultan pemasaran digital, Arga Permana, dalam diskusi daring bertajuk “Data-Driven Campaign: Kunci Pertumbuhan Brand di 2025”, pada Kamis (20/11/2025).
Menurut Arga, banyak brand lokal mengalami stagnasi karena kampanye pemasaran yang dijalankan tidak memiliki sistem, tidak diukur dengan data yang jelas, serta tidak memiliki integrasi antara konten, funnel, dan pengelolaan marketplace.
“Iklan tanpa data itu seperti menembak dalam gelap. Budget habis, tapi tidak tahu apa yang salah. Dengan sistem campaign berbasis data, brand bisa melihat titik bocor funnel, konten mana yang efektif, produk mana yang paling menghasilkan, dan bagaimana cara optimasi real-time,” ujarnya dalam sesi pemaparan.
Arga menjelaskan bahwa campaign management berbasis data bekerja melalui beberapa tahap utama, yakni pengumpulan data penjualan dan performa iklan, analisis funnel, perencanaan campaign, produksi konten, setup iklan, monitoring harian hingga optimasi, serta diakhiri dengan post-campaign analysis untuk mengetahui efektivitas kampanye.
Dorong Efisiensi Iklan dan Kenaikan Konversi
Ia menambahkan, pendekatan berbasis data ini terbukti mampu menurunkan biaya iklan dan meningkatkan konversi secara signifikan. Hal tersebut terlihat dari beberapa brand yang telah menerapkan metode ini, di mana biaya per hasil dapat turun 30–50 persen, sementara penjualan meningkat hingga dua kali lipat.
“Saat brand tahu konten mana yang menghasilkan CTR tinggi, audiens mana yang paling murah, jam mana yang paling banyak konversi, dan produk mana yang paling laku, mereka bisa menjalankan kampanye dengan sangat presisi,” jelas Arga.
Selain untuk memprediksi performa penjualan, data juga membantu tim dalam mengatur strategi penawaran seperti voucher, bundling, hingga penyesuaian harga di marketplace.
E-Commerce Harus Berstrategi, Bukan Sekadar Iklan
Sementara itu, analis pasar digital, Rini Putri, menilai bahwa tren digital marketing 2025 sudah mengarah pada sistem yang menyatukan konten, funnel, dan optimasi marketplace.
“Brand yang hanya fokus pasang iklan tanpa memikirkan funnel dan kualitas landing page akan kalah. Konsumen sekarang cerdas, mereka butuh trust dari konten dan produk yang relevan. Sistem berbasis data membuat semua elemen bekerja serempak,” kata Rini.
Ia juga mengingatkan bahwa pelaku bisnis e-commerce perlu lebih disiplin dalam melakukan monitoring harian, termasuk mengawasi:
- CTR dan CPC iklan
- Conversion rate
- Stok produk
- Rating pembeli
- Kompetitor di marketplace
“Satu metrik saja yang bocor bisa membuat kampanye jadi boros,” tambahnya.
Masa Depan Bisnis Digital: Data Sebagai Aset Utama
Praktisi e-commerce memprediksi bahwa dalam dua tahun ke depan, hampir seluruh brand yang ingin bersaing harus memiliki growth system yang terstandarisasi, bukan lagi bertumpu pada insting atau eksperimen acak.
Arga menegaskan bahwa data bukan hanya alat bantu, tetapi fondasi pengambilan keputusan.
“Data itu bukan angka semata, tapi peta jalan. Dengan data, campaign bisa diprediksi, diukur, dan direplikasi. Itulah kunci pertumbuhan jangka panjang,” tutupnya.

