Blimbingsari – Pengembangan pariwisata tidak hanya berbicara tentang promosi dan keindahan alam, tetapi juga tentang bagaimana sebuah destinasi dikelola secara berkelanjutan. Inilah salah satu pelajaran penting yang terlihat melalui kegiatan Project Based Learning (PBL) yang dilakukan oleh mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi, Jurusan Pariwisata, Program Studi Manajemen Bisnis Pariwisata, kelas 2E, dalam mata kuliah Manajemen Destinasi Pariwisata di bawah bimbingan Kanom, S.Pd., M.Par.
Pelaksanaan PBL yang berlokasi di Pantai Blimbingsari, Kecamatan Blimbingsari, tidak hanya menjadi kesempatan belajar, tetapi juga ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami isu-isu nyata di lapangan mulai dari kebersihan, fasilitas, hingga manajemen destinasi yang belum sepenuhnya maksimal.
PBL sebagai Pembelajaran Nyata: Melihat Masalah, Bukan Hanya Teori
Kegiatan PBL merupakan metode pembelajaran khas Politeknik Negeri Banyuwangi yang menekankan pengalaman langsung di lapangan. Dengan turun ke destinasi wisata, mahasiswa dapat menganalisis berbagai aspek 4A+1C (Attraction, Accessibility, Amenities, Ancillary, Community) secara nyata.
Di Pantai Blimbingsari, mahasiswa menemukan bahwa meskipun destinasi ini memiliki potensi besar dari panorama alam hingga kuliner masih banyak aspek yang perlu dibenahi. Salah satu kegiatan kunci pada Day 1 adalah bersih-bersih pantai, sebuah langkah awal yang membuka banyak realitas lapangan.
Day 1 Bersih-Bersih Pantai: Realitas Pengelolaan yang Belum Terjawab
Pada hari pertama, mahasiswa terjun langsung untuk membersihkan area pantai dari sampah plastik, sisa makanan, puntung rokok, hingga sampah rumah tangga yang berserakan di bibir pantai. Kegiatan ini menegaskan dua hal penting:
1. Kesadaran wisatawan dan masyarakat terhadap kebersihan masih rendah.
2. Infrastruktur pengelolaan sampah tidak berjalan efektif, meskipun jumlah tempat sampah cukup banyak.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga merasakan langsung tantangan yang dihadapi pengelola destinasi.
Kutipan dari Dosen Pengampu: Motivasi dan Kritik Membangun
Dosen pengampu, Kanom, S.Pd., M.Par., menyampaikan pesan yang sangat relevan dengan kondisi Blimbingsari:
“Manajemen destinasi tidak hanya tentang menarik wisatawan, tetapi bagaimana kita menjaga keberlanjutan. Kebersihan pantai adalah wajah pariwisata. Jika wajahnya tidak dirawat, maka seindah apa pun potensinya akan tertutup masalah dasarnya.” Kanom, S.Pd., M.Par.
Kutipan Ketua Pelaksana PBL
Selaku ketua pelaksana, Al. Qurothulaini juga memberikan refleksi terkait kegiatan ini:
“Kegiatan bersih-bersih pantai bukan hanya kewajiban PBL, tetapi bentuk kepedulian kami terhadap destinasi yang kami pelajari. Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa pariwisata tidak hanya mengamati, tetapi turun langsung membantu.” Al. Qurothulaini, Ketua Pelaksana PBL
Apa yang Dipelajari Mahasiswa dari Blimbingsari?
1. Potensi Besar yang Belum Dikelola Optimal
2. Fasilitas Perlu Penyegaran
3. Pengelolaan Perlu Ditata Ulang
4. Edukasi Wisatawan Urgen
Revitalisasi Beach Bar
Mahasiswa juga memberikan rekomendasi penghidupan kembali beach bar bambu yang kini terbengkalai. Jika direvitalisasi dengan konsep estetis, ramah wisata, dan dikelola secara profesional, tempat ini bisa menjadi ikon baru Pantai Blimbingsari.
Penutup
Pantai Blimbingsari memiliki segala yang dibutuhkan untuk menjadi destinasi unggulan. Yang dibutuhkan sekarang adalah pengelolaan yang lebih terarah dan kesadaran bersama. Melalui kegiatan PBL ini, mahasiswa belajar bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil seperti mengambil sampah di tepi pantai.



