Pesawaran — Budidaya mangot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) kini menjadi solusi efisien dalam penyediaan pakan ternak sekaligus pengelolaan limbah organik di wilayah Pesawaran dan sekitarnya. Dengan modal yang relatif rendah dan sistem pemeliharaan yang sederhana, budidaya mangot mampu memberikan nilai ekonomi dan manfaat ekologis.
Menurut Toni, seorang peternak maggot asal Gedong Tataan, budidaya ini sudah ia tekuni sejak awal 2024.
“Awalnya saya hanya coba-coba, tapi sekarang bisa menghasilkan lebih dari 5 kg maggot per hari dari sisa dapur dan limbah sayuran pasar,” ujarnya.
Mangot BSF dikenal memiliki kandungan protein tinggi, sekitar 40–60 persen, menjadikannya alternatif ideal untuk menggantikan tepung ikan atau dedak dalam pakan ayam, lele, dan bebek. Selain itu, larva ini juga mampu mengurai sampah organik hingga 70% lebih cepat dibandingkan metode kompos biasa.
Proses budidaya tergolong efisien. Telur BSF ditetaskan dalam waktu 3–4 hari, kemudian larva diberi makan limbah organik dan dipanen dalam waktu 12–15 hari. Larva yang sudah besar bisa langsung diberikan ke ternak atau dikeringkan menjadi tepung pakan.
Dinas Peternakan Kabupaten Pesawaran menyambut baik inovasi ini.
Kami mendorong kelompok ternak dan rumah tangga untuk memanfaatkan budidaya maggot sebagai bagian dari ekonomi sirkular. Selain mengurangi sampah, hasil panennya bernilai jual.
Kini, semakin banyak masyarakat yang mulai mencoba budidaya mangot secara mandiri.
Selain hemat biaya, budidaya ini juga mendukung ketahanan pangan lokal dengan pendekatan berkelanjutan.(Red)



