Pesawaran, 24 Juni 2025 — Di tengah aroma wangi pisang yang digoreng setengah matang, denting sendok alumunium terdengar dari dapur sederhana di Desa Bagelan. Bapak Maman, seorang pelaku UMKM, tengah sibuk meracik adonan kerupuk dan kripik pisang — produk khas yang kini mulai dikenal di pasar-pasar lokal Lampung.
Di balik renyahnya kerupuk khas Bagelan, tersimpan kisah perjuangan pelaku UMKM menghadapi keterbatasan bahan baku yang harus didatangkan dari luar daerah.
Namun di balik kepopuleran produk rumahan tersebut, Sulastri harus berjibaku dengan tantangan yang belum kunjung teratasi: bahan baku utama kerupuk dan kripik pisang kepok yang sulit didapat di wilayahnya.
Tergantung Pulau Jawa
Bahan baku kerupuk mentah seperti tepung tapioka siap cetak yang dibutuhkan untuk produksi ternyata tidak tersedia di Lampung. “Kami harus beli dari Jawa, biasanya dari Klaten atau Solo. Harganya naik-turun, apalagi kalau cuaca buruk dan ongkir mahal,” keluhnya.
Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat hingga 30 persen setiap bulan. Tidak jarang, pemesanan kerupuk harus ditunda karena bahan datang terlambat atau stok habis.
“Kami pernah hampir satu minggu tidak produksi karena pengiriman tertunda. Pelanggan banyak komplain,” tambahpak Maman, sambil menunjukkan tumpukan kemasan kosong yang belum bisa diisi.
Pisang Kepok Langka, Harga Naik
Tak hanya kerupuk mentah, bahan utama lain seperti pisang kepok — yang memberi cita rasa khas pada kerupuk — juga mulai sulit ditemukan di daerah Bagelan.
“Dulu, banyak petani pisang. Sekarang beralih tanam singkong atau sawit. Jadinya kami harus cari sampai ke Pringsewu atau Metro,” kata pak frangki yang bertugas memasok bahan.
Harga pisang kepok yang biasanya Rp3.000/kg kini bisa melonjak hingga Rp6.000/kg, tergantung musim. Hal ini menyulitkan pelaku UMKM seperti mereka untuk mempertahankan harga jual tanpa mengorbankan kualitas.
Bertahan Lewat Inovasi dan Semangat
Meski dihadapkan pada keterbatasan, pak Maman tak menyerah. Ia mulai mencoba berinovasi dengan mencari alternatif bahan, memperpendek jalur distribusi, hingga menjajaki kerja sama dengan koperasi tani.
“Bagi kami, tantangan ini bukan penghalang, tapi pemicu untuk berpikir kreatif. Kami juga sedang coba buat sendiri kerupuk mentah dengan alat cetak sederhana,” katanya sambil tersenyum.
Selain itu, Sulastri aktif mengikuti pelatihan digital marketing dari dinas koperasi untuk memperluas pemasaran secara daring. Kini, kerupuk buatannya sudah masuk ke beberapa toko oleh-oleh dan dijual lewat marketplace lokal.
Harapan ke Depan
UMKM kerupuk di Bagelan merupakan salah satu dari banyak contoh pelaku usaha kecil yang tetap bertahan meski dililit berbagai kendala logistik dan bahan baku. Mereka tidak menuntut bantuan besar, hanya keterjangkauan bahan dan akses yang lebih mudah.
“Kami hanya ingin terus berkarya, walau kecil. Selama ada yang beli dan makan kerupuk ini dengan senyum, kami akan terus produksi,” ucap Sulastri menutup perbincangan, sambil membalik adonan yang digoreng keemasan.



