Tanaman aromatik khas Indonesia seperti nilam dan kemenyan terus menjadi komoditas unggulan dunia, menyimpan potensi ekonomi besar dari akar budaya leluhur.
Jakarta – 24 Juli 2025, Indonesia dikenal sebagai surga biodiversitas tropis yang tak hanya menyimpan kekayaan hayati, tetapi juga warisan budaya aromatik yang telah mendunia. Dua di antaranya adalah nilam dan kemenyan—tanaman penghasil minyak atsiri yang menjadi tulang punggung industri parfum, kosmetik, hingga aromaterapi global.
Nilam: Aroma Khas dari Tanah Aceh hingga Sulawesi
Nilam (Pogostemon cablin) adalah tanaman penghasil minyak atsiri dengan aroma khas yang hangat, balsamik, dan tahan lama. Minyak nilam Indonesia dikenal sebagai yang terbaik di dunia karena memiliki kadar patchouli alcohol (PA) tinggi, komponen utama yang memberi karakteristik aroma dalam parfum kelas dunia.
Menurut data Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN), lebih dari 90% ekspor nilam dunia berasal dari Indonesia, terutama dari Aceh, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Utara. Nilam menjadi bahan dasar dalam produk-produk ternama seperti Chanel, Dior, dan Gucci.
“Nilam Indonesia unggul dalam kualitas dan ketahanan aroma. Karena itu, permintaannya selalu stabil di pasar Eropa dan Timur Tengah,” ujar Dr. Lestari Widodo, pakar minyak atsiri dari IPB.
Kemenyan: Warisan Spiritualitas dan Nilai Ekonomi Tinggi
Sementara itu, kemenyan atau benzoin berasal dari getah pohon Styrax, yang banyak tumbuh di Sumatera Utara, khususnya wilayah Tapanuli. Berbeda dari dupa biasa, kemenyan Indonesia memiliki aroma manis, lembut, dan bersifat terapeutik, digunakan sejak ribuan tahun lalu dalam ritual keagamaan dan pengobatan tradisional.
Kini, kemenyan juga diminati industri parfum dan farmasi global sebagai bahan fiksatif alami yang memperpanjang keharuman parfum. Negara-negara seperti Perancis, Jepang, dan Arab Saudi menjadi pasar utama kemenyan Indonesia.
Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal. Para petani kemenyan kerap menghadapi tantangan seperti harga jual yang fluktuatif, akses pasar terbatas, dan kurangnya inovasi pascapanen.
Potensi Ekonomi dan Perlu Dukungan Pemerintah
Nilam dan kemenyan tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga ekonomi. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor minyak nilam Indonesia pada tahun 2024 mencapai USD 130 juta, sementara kemenyan menyumbang lebih dari USD 25 juta dalam perdagangan komoditas atsiri.
Pakar ekonomi kehutanan, Dr. Abdul Malik, menilai pengembangan industri hilir sangat penting.
“Kita harus mendorong pengolahan minyak nilam dan kemenyan di dalam negeri agar tidak hanya menjadi eksportir bahan mentah. Ini akan membuka lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah bagi petani.”
Upaya Pelestarian dan Sertifikasi
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Perdagangan kini tengah mengupayakan sertifikasi geografis dan pembinaan kelompok tani nilam dan kemenyan. Beberapa kawasan seperti Aceh Selatan dan Humbang Hasundutan telah dijadikan sentra produksi unggulan berbasis pertanian ramah lingkungan.
Selain itu, kerja sama dengan pelaku industri parfum nasional juga mulai digalakkan untuk membangun merek lokal berbasis bahan baku wewangian Indonesia.
Dari hutan Sumatera hingga ladang-ladang rempah di Sulawesi, nilam dan kemenyan adalah bukti bahwa kekayaan aromatik Indonesia bukan sekadar cerita masa lalu. Dengan pengelolaan yang tepat, keduanya dapat menjadi simbol kejayaan industri wewangian Indonesia di panggung dunia.



