SCROLL TO CONTINUE : BACOBAE
Pemerintah

Disarpus OKU Hidupkan Kembali Tradisi Nyambai Ugan di Festival Literasi Sumsel 2025

disparpus oku

PALEMBANG — Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menghadirkan sentuhan sejarah yang berbeda pada Festival Literasi Sumsel 2025 di Asrama Haji Palembang, Jumat (07/11/2025). Tidak sekadar memamerkan koleksi arsip, Disarpus OKU justru menghidupkan kembali salah satu prosesi adat tertua di Bumi Sebimbing Sekundang, yakni Nyambai Ugan, yang menjadi pusat perhatian pengunjung.

Keikutsertaan OKU dalam festival yang diikuti 17 kabupaten/kota se-Sumsel ini semakin meriah dengan kunjungan langsung Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah bersama Ketua TP PKK OKU Hj. Zwesty Karenia Teddy. Kepala Disarpus OKU, Ahmad Azhar S.STP., M.M., menyampaikan apresiasinya atas antusiasme tersebut.

“Alhamdulillah, stand kita menjadi semakin semarak. Kehadiran Bupati OKU bersama Ibu Ketua TP PKK memberi dukungan besar bagi upaya pelestarian budaya yang kami tampilkan,” ujar Azhar.

Tradisi Kuno yang Terdokumentasi Sejak Abad ke-19

Prosesi Nyambai Ugan menjadi ikon utama stand Disarpus OKU. Tradisi ini dipercaya telah hadir sejak pengaruh Majapahit masuk ke wilayah Ulu Ogan, sebagaimana tercatat dalam kitab Remas Undan Selake. Keberadaannya bahkan terdokumentasi dalam penelitian Belanda pada tahun 1843.

Catat Tanggalnya! Puskesmas Cipanas Hadirkan Layanan Cek Kesehatan Gratis di Desa Talagahiang

Prosesi dimulai dengan adat adang-adangan, yaitu penyambutan tamu dengan menghadang menggunakan kain atau tombak, disertai balas-balasan pantun. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan tari Bakhi Nyambai Ogan yang menggambarkan keramahan dan kearifan lokal masyarakat Ugan.

“Tahun ini kami menampilkan kembali prosesi Nyambai Ugan secara lengkap, berikut narasi sejarah dan rekam arsip yang tersimpan rapi di Disarpus OKU,” jelas Azhar.

Koleksi Kain dan Alat Musik Berusia Puluhan Hingga Ratusan Tahun

Selain memperlihatkan prosesi adat, Disarpus OKU membawa serta koleksi otentik berupa kain, peralatan adat, hingga instrumen musik tradisional.

Beberapa di antaranya:

Program Ketahanan Pangan Rp195,6 Juta di Desa Neglasari Dikelola KDMP, Kades Paparkan Dasar Perencanaan hingga Realisasi

– Kain Dudut Laki-Laki ukuran 103 × 84 cm, diperkirakan dibuat tahun 1960.

– Kain Dudut Perempuan ukuran 144 × 102 cm dengan ujung kain hitam-merah.

– Kain Pelangi, berusia sekitar tahun 1920, biasa digunakan untuk menyambut tamu penting.

– Wak Tawak, alat musik kuningan mirip gong dengan diameter 40 cm.

– Tuk Getuk, alat musik kayu berlukuh memanjang, diperkirakan sejak 1980-an.

Ketua LSIM Banten Apresiasi DPRD Kabupaten Tangerang Raih Zero Temuan Dua Tahun Berturut-turut

– Pendi, instrumen berdengung khas berdiameter 30 cm.

– Jidur dan Gong, dilengkapi Gamelan, menambah kesan lengkap alunan musik pada prosesi.

Semua koleksi tersebut merupakan arsip budaya yang telah dirawat dan didokumentasikan dengan baik oleh Disarpus OKU.

Literasi Budaya sebagai Ruang Edukasi Publik

Menurut Azhar, keikutsertaan Disarpus OKU pada Festival Literasi Sumsel bukan sekadar pameran, tetapi merupakan bentuk literasi budaya yang menyampaikan nilai sejarah secara langsung kepada masyarakat.

“Dengan menampilkan Nyambai Ugan, kami ingin publik mengetahui bahwa OKU memiliki tradisi besar yang sudah terdokumentasi sejak lama. Ini adalah literasi budaya yang menghubungkan arsip, sejarah, dan identitas daerah,” tegasnya.

Melalui penampilan yang kuat dan sarat nilai budaya, stand Disarpus OKU di Festival Literasi Sumsel 2025 berhasil menegaskan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca, tetapi juga memahami akar budaya dan sejarah yang membentuk karakter masyarakat OKU.

× Advertisement
× Advertisement