Banten – Sultan Maulana Hasanuddin adalah tokoh penting dalam sejarah Nusantara sebagai pendiri sekaligus Sultan pertama Kesultanan Banten. Di bawah kepemimpinannya, Banten bertransformasi dari wilayah kekuasaan kerajaan Hindu menjadi kerajaan Islam yang makmur dan strategis di jalur perdagangan internasional. Ia juga dikenal sebagai penyebar ajaran Islam yang damai dan bijaksana.
Sultan Maulana Hasanuddin lahir pada awal abad ke-16 dan merupakan putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa. Ibunya adalah seorang putri bangsawan dari kerajaan Pajajaran. Dengan latar belakang ini, Maulana Hasanuddin mewarisi ilmu keagamaan yang kuat sekaligus kecakapan dalam strategi dan kepemimpinan.
Pada masa mudanya, Maulana Hasanuddin diutus oleh ayahnya untuk menyebarkan Islam di wilayah barat Pulau Jawa, khususnya di Banten Girang, yang saat itu merupakan bagian dari kerajaan Hindu Pajajaran. Ia datang tidak dengan kekerasan, tetapi melalui pendekatan damai, dakwah, dan hubungan sosial.
Namun, karena Banten adalah wilayah strategis yang menjadi pelabuhan dagang penting di pesisir utara Jawa, Maulana Hasanuddin juga melakukan penaklukan militer secara terukur terhadap Banten Girang, dengan dukungan dari Cirebon dan para ulama.
Setelah berhasil menguasai Banten dari Pajajaran, Maulana Hasanuddin mendirikan Kesultanan Banten pada tahun 1526, sekaligus diangkat sebagai Sultan pertama. Ia kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari pedalaman Banten Girang ke wilayah pesisir yang kini menjadi Kota Serang, guna mengembangkan perdagangan maritim dan menyambut pedagang dari luar negeri.
Kesultanan Banten menjadi salah satu kerajaan Islam pertama di barat Nusantara yang berkembang sangat pesat, terutama karena letaknya yang strategis dekat Selat Sunda-penghubung jalur dagang antara Asia Tenggara dan Samudra Hindia.
Sebagai sultan, Maulana Hasanuddin membangun fondasi kuat bagi kerajaan baru:
• Mengembangkan perdagangan, terutama komoditas lada, yang menjadi andalan ekspor Banten.
• Menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan dengan pedagang dari Arab, Persia, India, Tiongkok, dan Eropa.
• Menyebarkan ajaran Islam dengan membangun masjid, madrasah, dan mengutus para ulama ke pedalaman.
• Menata sistem pemerintahan Islam dan membentuk lembaga adat dan hukum berdasarkan syariat.
Ia juga membangun infrastruktur penting, seperti Masjid Agung Banten Lama dan kawasan Kraton Surosowan, yang menjadi pusat pemerintahan dan keagamaan.
Sultan Maulana Hasanuddin wafat sekitar tahun 1570. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Banten di Banten Lama, di samping Masjid Agung Banten. Makamnya hingga kini menjadi situs ziarah dan bukti sejarah keberadaan beliau sebagai tokoh besar.
Ia digantikan oleh putranya, Sultan Maulana Yusuf, yang melanjutkan perjuangannya dengan menaklukkan sisa kekuasaan Kerajaan Pajajaran di pedalaman Sunda (Pakuan Pajajaran) pada tahun 1579.
Warisan Maulana Hasanuddin sangat besar, baik secara spiritual, politik, maupun kebudayaan. Ia dikenang sebagai:
• Pendiri kerajaan Islam yang berdaulat di ujung barat Nusantara.
• Ulama dan pemimpin yang berhasil menyebarkan Islam tanpa kekerasan.
• Simbol Islam Nusantara yang toleran, terbuka terhadap perdagangan, namun tetap menjaga nilai-nilai keadilan.
Kesultanan Banten yang didirikannya kemudian mencapai puncak kejayaan di bawah kepemimpinan keturunannya, terutama Sultan Ageng Tirtayasa.
Sultan Maulana Hasanuddin bukan hanya pendiri sebuah kerajaan, tetapi juga tokoh sentral dalam proses Islamisasi di wilayah barat Jawa. Keberaniannya dalam menaklukkan Banten Girang, kebijaksanaannya dalam memimpin, dan komitmennya terhadap dakwah Islam menjadikannya salah satu figur penting dalam sejarah Indonesia.
Namanya terus dikenang sebagai tokoh yang mengubah wajah sejarah Banten dan memberikan fondasi bagi kejayaan Islam di Nusantara. (Dih)



