Pesawaran – Tak semua beras diciptakan sama. Di balik sebutir beras premium yang tersaji di meja makan, ada proses panjang dan teliti yang dimulai dari sawah hingga pengemasan. Inilah perjalanan padi menjadi beras berkualitas tinggi, yang banyak diminati pasar domestik maupun ekspor.
1. Pemilihan Varietas Unggul
Proses dimulai dari pemilihan varietas padi unggul seperti Inpari 32, Pandan Wangi, atau Mentik Wangi, yang dikenal menghasilkan bulir beras yang pulen, harum, dan tahan lama saat disimpan.
“Varietas premium ini memerlukan perawatan khusus sejak semai hingga panen. Kami menggunakan pupuk organik dan sistem tanam jajar legowo agar hasil maksimal,” ujar Dedi Susanto, petani padi organik di Pesawaran.
2. Panen Tepat Waktu
Padi premium dipanen saat bulir mencapai tingkat kematangan optimal. Panen dilakukan secara hati-hati, biasanya manual, agar bulir tidak pecah. Proses ini menjamin mutu gabah tetap terjaga.
3. Pengeringan dan Sortasi Ketat
Setelah panen, gabah langsung dikeringkan menggunakan mesin pengering (dryer) modern untuk memastikan kadar air maksimal 14%. Proses ini penting untuk mencegah jamur dan menjaga kualitas.
Setelah itu, dilakukan sortasi awal untuk memisahkan gabah kotor dan rusak.
4. Penggilingan dengan Teknologi Modern
Gabah yang telah bersih masuk ke tahap penggilingan. Mesin husker digunakan untuk memisahkan sekam, kemudian beras pecah kulit dipoles melalui mesin pemoles (polisher) berteknologi Jepang atau Korea.
“Untuk beras premium, kami hanya mengambil butiran utuh, tidak patah, dan warnanya putih mengilap. Proses penyosohan tidak berlebihan agar nutrisi tetap terjaga,” jelas Yuni Hartati, pengelola penggilingan modern di Lampung.
5. Quality Control dan Pengemasan Vakum
Beras yang sudah digiling akan disortir ulang secara manual dan mesin, kemudian dikemas dengan sistem vakum atau dalam plastik food grade. Beberapa produsen bahkan menambahkan nitrogen untuk menjaga kesegaran.
6. Siap Edar ke Pasar Premium
Beras premium dijual di supermarket, toko organik, dan platform e-commerce dengan harga 2–3 kali lipat dari beras biasa. Target konsumennya adalah rumah tangga menengah ke atas, hotel, dan pasar ekspor seperti Singapura dan Jepang.
Mengapa Beras Premium?
Beras premium dinilai lebih sehat, bebas residu pestisida, lebih tahan lama, dan memiliki aroma khas. Meskipun harganya lebih mahal, banyak konsumen mulai beralih karena kesadaran terhadap pangan berkualitas.



