Palembang – Jembatan Ampera, ikon kebanggaan Kota Palembang, Sumatera Selatan, menyimpan kisah panjang perjuangan rakyat dan semangat persatuan bangsa. Pembangunan jembatan yang menghubungkan Seberang Ilir dan Seberang Ulu ini dimulai pada tahun 1962 dan selesai pada tahun 1965.
Gagasan membangun Jembatan Ampera sudah ada sejak era Presiden Soekarno, dengan tujuan memperlancar arus lalu lintas antarkawasan yang terpisah oleh Sungai Musi. Pembangunan ini juga bertujuan meningkatkan perekonomian warga Palembang dengan mempermudah distribusi barang dan jasa.
Pendanaan pembangunan jembatan berasal dari dana pampasan perang Jepang sebesar ¥2,2 miliar. Perusahaan asal Jepang, yaitu Kawasaki Heavy Industries, dipercaya untuk merancang dan membangun jembatan ini. Pada awal pembangunannya, jembatan ini diberi nama Jembatan Bung Karno sebagai bentuk penghormatan kepada sang proklamator. Namun, setelah pergantian pemerintahan pada 1966, namanya diubah menjadi Jembatan Ampera, yang merupakan singkatan dari “Amanat Penderitaan Rakyat”.
Ciri khas Jembatan Ampera adalah mekanisme pengangkat pada bagian tengah jembatan yang dapat dinaikkan hingga setinggi 10 meter dari posisi semula. Hal ini memungkinkan kapal besar melintas di bawahnya tanpa hambatan. Namun, pada tahun 1970, mekanisme tersebut dihentikan karena dianggap mengganggu arus lalu lintas yang semakin padat.
Jembatan ini memiliki panjang sekitar 1.117 meter, lebar 22 meter, dan tinggi 11,5 meter dari permukaan air Sungai Musi. Struktur utamanya menggunakan baja dengan berat mencapai 944 ton. Pada saat peresmian, Jembatan Ampera menjadi jembatan angkat terbesar di Asia Tenggara.
Seiring berjalannya waktu, Jembatan Ampera tidak hanya menjadi penghubung transportasi, tetapi juga destinasi wisata ikonik yang selalu ramai dikunjungi, terutama pada malam hari saat jembatan dihiasi lampu warna-warni. Keberadaannya tidak hanya mempererat hubungan wilayah, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Palembang.



