SCROLL TO CONTINUE : BACOBAE
Business

Bijih Emas Pesawaran Sulit Diolah? Ternyata Masalahnya Bukan di Emas, Tapi di Lumpurnya

ball mill

Pesawaran, Lampung — Selama ini banyak penambang rakyat di Pesawaran mengeluhkan hal yang sama: emas sulit keluar, sianida boros, dan kolam cepat berubah jadi lumpur kental. Banyak yang mengira kadar emas rendah atau batuannya “keras”.

Padahal, berdasarkan kajian ilmiah dan analisa karakter bijih di wilayah Babakan Loa dan sekitarnya, masalah utamanya bukan pada emasnya, melainkan pada kandungan tanah liat (clay) yang sangat tinggi di dalam batuan.

Kenapa Bisa Begitu?

Batuan emas di Pesawaran, terutama dari urat kuarsa (batuan primer), banyak mengandung mineral lempung seperti kaolinite dan montmorillonite. Mineral ini punya sifat:

Akibatnya, saat batuan digiling dan langsung disianida, yang bereaksi bukan emasnya, tetapi justru lumpurnya. Inilah penyebab sianida boros dan hasil emas tidak maksimal.

Fakta Ilmiahnya

Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa emas di batuan ini ukurannya sangat halus (kurang dari 20 mikron). Jika langsung digiling halus lalu disianida, emas tetap “terkunci” di dalam lumpur clay.

Inilah alasan kenapa banyak proses di lapangan mentok di recovery rendah, meskipun sianida sudah ditambah.

Pemkab Pesawaran Gelar Pasar Murah, Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Pokok di Bulan Ramadan

Solusinya Ternyata Sederhana: Cuci Lumpurnya Dulu

Di industri pertambangan besar, sebelum proses sianida selalu ada tahap yang disebut desliming atau pulp washing, yaitu:

Mencuci dan membuang lumpur clay sebelum emas dilindi dengan sianida.

Alat yang biasa dipakai disebut thickener / pulp washing thickener, yang fungsinya memisahkan pasir kuarsa pembawa emas dari lumpur halus.

Setelah clay dibuang, barulah sianida bekerja efektif pada emas.

Metode yang Tepat untuk Pesawaran

Berdasarkan karakter bijih di Pesawaran, metode yang disarankan adalah:

Tambang Rakyat Berdaya Saing: Rantai Produksi Terintegrasi Tingkatkan Nilai dan Kesejahteraan Penambang

Untuk batuan primer (urat kuarsa):

  1. Hancurkan batu

  2. Giling secukupnya (jangan terlalu halus)

  3. Cuci lumpur (desliming)

  4. Baru lakukan sianidasi

Untuk material sekunder (tanah lapukan/kerikil):

  • Tidak perlu digiling halus

  • Cukup gunakan metode gravitasi (sluice, meja goyang)

  • Sianida hanya sedikit atau bahkan tidak perlu

Dampaknya Jika Metode Ini Diterapkan

  • Penggunaan sianida bisa hemat 30–50%

  • Lumpur tidak lagi mengental

  • Waktu proses lebih cepat

  • Recovery emas bisa naik hingga di atas 90%

Kesimpulan

Selama ini banyak penambang fokus menambah sianida atau menggiling lebih halus. Padahal yang perlu dilakukan justru:

Menghilangkan efek lumpur (clay) terlebih dahulu.

Dengan memahami karakter batuan Pesawaran, pengolahan emas bisa jauh lebih efisien, hemat biaya, dan ramah lingkungan.

Ini bukan teori, tetapi sudah terbukti dalam kajian ilmiah dan praktik di industri pengolahan emas modern.

× Advertisement
× Advertisement